Dulu, ketika musim layang-layang, saya dan teman-teman selalu sibuk
mencari berbagai macam peralatan untuk ikut meramaikan musim tersebut.
Tiap datang sekolah kami berkumpul membuat layang-layang bersama. Kakak
sepupu saya sangat jago dalam membuat benda ini, sehingga dia tidak
hanya membikin untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk dijual kepada
teman-teman yang lain.
Tiap sore hari, layang-layang itu kami naikkan ke udara untuk diadu.
Tidak hanya mengadu seberapa kuat dan tajam lapisan beling pada benang
layang-layang kami, tetapi lebih dari itu adalah ketangkasan dalam
mengendalikan layang-layang di udara. Bagaimanapun, faktor kecerdikan
membaca kelemahan lawan sangat penting dalam hal ini. Adu layang-layang
barangkali adalah miniatur sebuah peperangan yang juga butuh strategi.
Itu kebiasaan saya dan teman-teman ketika masih kanak-kanak dulu.
Setelah berbilang tahun saya mondok dan suatu ketika kebetulan pulang,
saya sudah sangat jarang mendapati kanak-kanak di kampung saya terlibat
dalam pembuatan layang-layang. Bilapun mereka suka mengadu, kebanyakan
malah membeli layang-layang yang sudah jadi di toko. Ditambah lagi
dengan animo mereka yang makin susut terhadap layang-layang.